11.15.2012

Taktik Perang Bangsa Romawi

Militer Romawi merupakan kesatuan bersenhjata yang paling sukses dan kuat dalam sejarah, mendominasi dunia Barat selama lebih dari seribu tahun. Bangsa Romawi percaya bahwa dirinya adalah keturunan Mars yang secara harfiah berarti putra dewa perang. Mereka adalah predator yang tak kenal lelah dalam penaklukan hingga akhirnya dikalahkan oleh gelombang invasi barbar dan pembusukan internal.
tentara romawi
Keberhasilan perang mereka tentu tak dapat dipisahkan dari taktik militer yang mereka gunakan. Informasi tentang taktik ini berasal dari catatan-catatan pertempuran. Salah satunya, kitab Sextus Julius Frontinus yang bagian dari karyanya dimasukkan dalam catatan sejarawan Vegetius sehingga bisa sampai pada kita.
Dalam catatannya, Vegetius mengatakan bahwa berada lebih tinggi dari musuh merupakan sebuah keuntungan dan ketika mengadu infanteri melawan kavaleri sebaiknya memilih medan berupa tanah yang kasar. Pasukan harus membelakangi matahari untuk menyilaukan pasukan musuh. Pasukan juga menghindari tiupan angin yang kencang sehingga memberi keuntungan pada senjata-senjata lempar dan membutakan pasukan musuh dengan debu.
Selanjutnya, setiap prajurit harus memiliki ruang tiga kaki, sedangkan jarak masing-masing prajurit dalam barisan sejauh enam meter. Dengan demikian, 10000 prajurit dapat ditempatkan dalam sebuah area persegi panjang seluas 1500 yard. Adapun pengaturannya adalah menempatkan komandan di sayap kanan, infanteri di tengah dan kavaleri di sayap. Fungsi keduanya untuk mencegah pusat dari kepungan dan ketika pasukan musuh mulai mundur, kavaleri akan bergerak maju dan menghancurkan mereka. Dalam hal ini, pertempuran utama dilakukan oleh pasukan infanteri, sementara pasukan berkuda selalu menjadi kekuatan sekunder dalam peperangan kuno.
Vegetius juga mengajurkan bahwa jika kavaleri lemah, maka perlu diperkuat dengan prajurit bersenjata ringan. Juga ditekankan adanya prajurit cadangan yang memadai. Pasukan cadangan tersebut bisa digunakan untuk menangkis pasukan kavaleri musuh membokong pasukan infanteri. Mereka juga bisa dipindahkan ke samping dan melakukan manuver untuk menutup serangan lawan.
Berikut ini tujuh petunjuk khusus Vegetius mengenai tata letak sebelum pertempuran:
  1. Di tanah datar, formasi terdiri dari pasukan pusat, dua pasukan sayap dan pasukan cadangan ditempatkan di bagian belakang. Pasukan sayap dan cadangan harus cukup kuat untuk mencegah maneuver pemblokiran dan pengepungan.
  2. Pada pertempuran di garis miring, misalnya di lereng bukit, pasukan sayap kiri mengambil posisi defensif, sementara pasukan sayap kanan maju untuk mangatasi pasukan sayap kiri lawan. Kebalikan dari langkah ini adalah memperkuat pasukan sayap kiri dengan kavaleri dan cadangan, tetapi jika keduanya berhasil di front depan, akan cenderung bergerak berlawanan dengan arah jarum jam atau menyesuaikan dengan karakter tanah. Pemikiran ini berfungsi untuk menstabilkan sayap kiri dengan perlindungan tanah yang kasar, sedangkan sayap kanan seharusnya bias bergerak tanpa hambatan.
  3. Sama seperti no. 2, kecuali pasukan sayap kiri lebih kuat dan mencoba suatu gerakan memutar. Ini akan digunakan hanya ketika pasukan sayap kanan musuh lemah.
  4. Kedua sayap maju bersama-sama, meninggalkan pasukan induk belakangnya. Ini memungkinkan untuk mengejutkan dan menurukan moral musuh sehingga meninggalkan induknya terbuka. Namun, ketika pasukan musuh juga melepaskan kedua sayapnya, ini juga bisa menjadi manuver yang sangat berbahaya karena pasukan terpecah menjadi tiga formasi terpisah dan musuh yang terampil bisa memanfaatkannya sebagai keuntungan. 
  5. Taktik yang sama seperti no 4, tapi pasukan induk dilindungi oleh infanteri bersenjata ringan atau pemanah yang bisa mengganggu pasukan induk musuh ketika mereka melibatkan pasukan sayap.
  6. Ini adalah variasi dari no. 2 di mana pusat dan sayap kiri mundur, sementara sayap kanan mencoba suatu gerakan memutar. Jika sudah berhasil, sayap kiri yang diperkuat pasukan cadangan, bisa maju untuk menyelesaikan gerakan pemblokiran.
  7. Penggunaan tanah yang cocok di sayap lainnya, seperti yang disarankan pada no 2.
Semua taktik tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu melanggar garis pertempuran musuh. Jika pasukan sayap dapat dipukul mundur, pasukan induk harus berjuang di dua front (sayap) atau terpaksa berperang di ruang terbatas.
Jika kelemahan dalam garis musuh dapat dideteksi, kelemahan itu akan dieksploitasi dengan menggunakan kekuatan asing untuk melawannya. Demikian pula perlu untuk menyamarkan garis pertempuran, bahkan prajurit terkadang harus menyamar untuk menipu musuh. Seringkali ukuran pasukan disembunyikan sehingga membuatnya tampak kecil, tetapi besar begitu keluar menyerbu. Ada juga banyak contoh taktik kejutan yang dibuat dengan memisahkan unit kecil yang tiba-tiba muncul dari tempat tersembunyi dengan banyak debu dan kebisingan untuk membuat musuh percaya bahwa bala bantuan telah tiba.
Setelah musuh tercerai berai, mereka dibiarkan melarikan diri. Alasannya, prajurit yang telah terperangkap boleh jadi akan bertempur sampai mati sehingga akan memungkinkan kerugian pada pasukan sendiri (infanteri). Tetapi, jika mereka dibiarkan lolos, mereka akan disambut oleh kavaleri yang telah menunggu.
Vegetius menutup taktiknya dengan taktik penarikan dalam menghadapi musuh. Operasi ini sangat sulit serta memerlukan keahlian dan pertimbangan. Dalam taktik ini, pasukan sendiri dan pasukan musuh perlu ditipu. Disarankan bahwa pasukan sendiri diberitahu bahwa penarikan adalah untuk menarik musuh ke dalam perangkap dan gerakan mundur itu dapat dilindungi dengan menggunakan kavaleri di bagian depan. Tapi, taktik ini hanya dapat digunakan jika pasukan tersebut belum terlibat pertempuran. Selama penarika, unit dipisah-pisah untuk menyergap musuh yang gegabah. Dengan cara ini formasi sering berubah-ubah.
Pada bagian yang lebih luas dan dalam perang berkelanjutan, orang-orang Romawi menggunakan taktik menyangkal lawan. Dalam hal ini, mereka menggunakan taktik vastatio untuk menimbulkan efek sistematis di wilayah musuh. Tanaman akan dihancurkan atau dijarah, hewan-hewan akan dibawa pergi atau hanya disembelih, sementara orang-orang akan dibantai atau diperbudak.
  • Formasi Pasukan
Formasi Kura-kura (Testudo)
Formasi kura-kura pada dasarnya merupakan defensif di mana para prajurit akan memegang perisai di atas kepala mereka, kecuali untuk prajurit di barisan depan, sehingga menciptakan semacam baju besi untuk mengatasi senjata-senjata lempar dari depan atau atas.
Formasi Baji
Formasi ini biasa digunakan untuk menyerang di mana pra prajurit membentuk formasi segitiga. Di depan, seorang prajurit menunjuk ke arah musuh. Ini memungkinkan kelompok-kelompok kecil untuk merangsek musuh dan ketika formasi diperluas, pasukan musuh akan memiliki ruang yang terbatas sehingga akan menyulitkan pertempuran satu lawan satu.
Formasi Gergaji

Formasi gergaji kebalikan dari formasi baji. Dalam formasi gergaji, sebuah unit dilepaskan tepat di belakang garis depan agar mampu melakukan gerakan menyamping dengan cepat di sepanjang garis untuk memblokir setiap lubang yang mungkin muncul.
Formasi Pertempuran Kecil
Dalam formasi ini, pasukan dipecah menjadi unit-unit militer kecil yang terpisah satu sama lain Ini memungkinkan para prajurit untuk bergerak lebih mobile untuk memecah barisan pasukan musuh yang ketat.
Formasi Pukul Mundur
Dalam formasi ini barisan pertama membentuk dinding dengan perisai mereka di mana para prajurit yang membentuknya juga akan menyiapnyiagakan senjata mereka. Pada barisan kedua, prajurit infanteri akan menggunakan tombak dan panah untuk untuk mengusir setiap penyerang berkuda. Formasi ini digunakan untuk mengusir pasukan kavaleri.
Formasi Orb
Formasi orb merupakan formasi defensif dalam bentuk lingkaran yang diambil oleh sebuah unit yang berada dalam kesulitan. Hal ini memungkinkan pertahanan yang cukup efektif, bahkan dapat meningkatkan kedisiplinan seorang prajurit.
  • Taktik Bizantium
Selama era Bizantium kekuatan sejati di medan perang berada di tangan pasukan kavaleri. Kalaupun ada infanteri, hanya terdiri dari pemanah dengan busur yang memiliki jangkauan lebih jauh daripada busur kecil yang dibawa para penunggang kuda. Meskipun kavaleri masih ditempatkan di sayap, pasukan infanteri berdiri jauh dari sayap kavaleri. Setiap musuh yang akan menyerang infanteri harus melewati dua sayap kavaleri. Bahkan, seringkali infanteri tak digunakan sama sekali.
Di tanah berbukit atau di lembah sempit di mana kavaleri tidak dapat digunakan, infanteri memiliki pemanah ringan di sayap, sementara prajurit yang lebih berat (scutati) ditempatkan di pusat. Sayap yang diposisikan sedikit ke depan, menciptakan semacam garis berbentuk bulan sabit. Dalam kasus serangan terhadap pusat, infanteri pemanah di sayap akan mengirimkan badai panah pada para penyerang. Meskipun demikian, bila diserang, sayap infanteri akan mundur ke belakang scutati.
  • Spesifikasi Taktik Bizantium
Seni perang Bizantium juga berisi taktik khusus yang dikembangkan untuk menghadapi lawan tertentu. Dalam hal ini, kitab Tactica memberikan petunjuk yang tepat untuk menangani berbagai musuh:
Kaum Frank dan Lombard
Mereka didefinisikan sebagai ksatria kavaleri berat yang bisa menghancurkan lawan. Namun demikian, mereka berjuang tanpa disiplin dan nyaris tanpa penataan. Mereka juga gagal untuk membentengi kamp mereka di malam hari. Oleh karena itu, jenderal Bizantium menggunakan serangkaian penyergapan dan serangan malam. Jika terjadi perlawanan, pasukan Bizantium akan pura-pura mundur, lalu melakukan penyergapan terhadap para penyerang yang mengejar mereka.
Magyar dan Patzinak
Mereka disebut sebagai orang Turki oleh Bizantium. Mereka berjuang sebagai kelompok penunggang kuda yang dipersenjatai dengan busur, lembing dan pedang. Kecepatan mereka digunakan dalam melakukan penyergapan dan pengintaian. Dalam pertempuran mereka maju dalam kelompok-kelompok kecil yang menyebar untuk mengusik garis. Untuk menghadapi mereka disarankan menyebarkan pemanah infanteri di garis depan. Busur mereka yang lebih besar dan memiliki rentangan yang lebih panjang bisa menjaga pasukan berkuda Turki tersebut tetap berada di kejauhan. Selanjutnya, setelah pasukan berkuda Turki dipecundangi para pemanah infanteri Bizantium, giliran kavaleri Bizantium yang akan mengambil alih menghancurkan mereka.
Suku-suku Slavia
Untuk menghadapi suku-suku Slavia, seperti Serbia, Slovenia dan Kroasia, disarankan untuk menfaatkan medan pegunungan Balkan yang terjal di mana para prajurit Bizantium akan melemparkan panah dan tombak dari atas ketika medan perang dibatasi oleh sebuah lembah yang curam. Tetapi, diperlukan pula pengintaian yang cermat untuk menghindari penyergapan dari suku-suku itu.
Ketika pertempuran berlangsung di lapangan terbuka, prajurit-prajurit Bizantium akan menuai keuntungan karena prajurit suku-suku tersebut nyaris tidak dilengkapi baju besi, kecuali perisai bulat. Oleh karena itu, infantri mereka dengan mudah bisa dikuasai oleh kavaleri Bizantium.
Saracen
Saracen dinilai sebagai yang paling berbahaya dari semua musuh. Selain didukung oleh fanatisme agama, mereka juga mengadopsi beberapa persenjataan dan taktik prajurit Bizantium. Orang-orang Saracen berkonsentrasi pada perampokan dan penjarahan ekspedisi, bukan penaklukan permanen.
Untuk menghadapi mereka, Bizantium segera mengumpulkan kekuatan kavaleri dari wilayah terdekat dan mengikuti jejak prajurit penjarah. Selain itu, karena kekuatan Saracen hanya akan terjebak pada saat pulang dengan sarat jarahan, maka Kaisar Phocas Nicephorus menyarankan prajurit infantri mengepung mereka di malam hari dari tiga sisi dan hanya meninggalkan satu ruang terbuka sebagai jalan kembali ke tanah mereka. Itu dianggap paling mungkin di mana Saracen yang terkejut akan melompat ke kuda mereka dan pulang daripada mempertahankan jarahan mereka.
Taktik lain adalah untuk memotong jalur mundur mereka. Infanteri Bizantium akan memperkuat garnisun di benteng penjagaan dan kavaleri akan mengejar penyerang, menyudutkan mereka ke lembah. Ketika mereka ditekan ke sebuah lembah sempit, mereka akan punya sedikit ruang untuk melakukan manuver. Di sini mereka akan menjadi mangsa empuk bagi pemanah Bizantium.
Taktik ketiga adalah untuk meluncurkan serangan balik ke perbatasan wilayah Saracen. Sebuah kekuatan penyerang Saracen seringkali akan berbalik membela perbatasannya sendiri jika pesan serangan mencapainya.

No comments :

Post a Comment