Sebab Khusus PD II Di Asia Pasifik

Kapan Perang Pasifik dimulai? Jawaban yang kita dapati selama ini adalah tanggal 7 Desember 1941 ketika Jepang menyerang Pearl Harbour, Hawaii. Tetapi anehnya, hampir tidak ada yang menyebutkan tanggal 8 Desember 1941 kala Jepang menyerang Kota Bharu, Malaya sebagai awal pecahnya Perang Perang Dunia II di Pasifik.
Juli 1937, Jepang meluncurkan program untuk menyerang dan menaklukkan Cina. Namun demikian, Jepang juga menyadari bahwa untuk melancarkan perang tersebut dibutuhkan bahan-bahan perang yang tersedia di wilayah selatan China yang dikuasai bangsa Eropa, khususnya minyak dari Hindia Belanda, karet dan timah dari Malaya. Awalnya, Jepang berkoar bahwa sanggup menaklukkan Shanghai dalam waktu 3 hari dan menaklukkan seluruh China dalam waktu 3 bulan. Namun, penaklukan Shanghai memerlukan waktu lebih dari 3 bulan (Pertempuran Shanghai: 13 Agustus 1937 - 26 November 1937). Pada pertengahan 1940 Jepang pun menemui jalan buntu dan tidak bisa memenangkan perang di China.
Awalnya, Jepang berkoar bahwa sanggup menaklukkan Shanghai dalam waktu 3 hari dan menaklukkan seluruh China dalam waktu 3 bulan. Namun, penaklukan Shanghai memerlukan waktu lebih dari 3 bulan (Pertempuran Shanghai: 13 Agustus 1937 - 26 November 1937). Pada pertengahan 1940 Jepang pun menemui jalan buntu dan tidak bisa memenangkan perang di China.
Berbeda dengan koleganya di Eropa, Jerman telah menaklukkan Belanda pada 14 Mei 1940, Perancis pada 25 Juni 1940 dan mengepung Inggris sejak 10 Juli 1940. Ini berarti bahwa wilayah di selatan Cina (wilayah Belanda, Perancis dan Inggris) akan lemah. Hal ini kemudian membuat Jepang berani untuk memecah kebuntuan di China dengan jalan menyerang Tonkin dan Indo-Cina. Jepang menginvasi Tonkin pada tanggal 22 September 1940 untuk memotong rute pasokan ke China dari Haiphong (di Tonkin) ke Kunming (di Cina). Jepang menghitung bahwa memotong pasokan pada militer China akan membuat militer Jepang dapat memecahkan kebuntuan di Cina.
Ketika Jepang kemudian menyerang Indo-China pada 22 September 1940, AS pun khawatir atas keamanan Filipina (sebuah wilayah AS). Akibatnya, pada tanggal 25 September 1940, untuk mengurangi kemampuan perang Jepang, AS mengurangi ekspor minyak ke Jepang dan pada 16 Oktober 1940 benar-benar menghentikan semua ekspor lempeng besi & baja ke Jepang. AS saat itu merupakan satu-satunya sumber penting lempeng besi & baja di seluruh dunia. Pada tahun 1937 dan 1939, Jepang memproduksi 7 juta ton baja dengan menggunakan sebagian besar―2 juta ton―lempengan besi & baja yang diimpor setiap tahun dari Amerika Serikat. Oleh karena itu, embargo tersebut melumpuhkan industri baja Jepang dan dengan demikian menurunkan kemampuan perang Jepang.
Dari situlah tampak tanda-tanda jika AS akan turut campur. Padahal, jepang, Jerman dan Italia sudah membuat Pakta Tripartit (Pakta Axis) pada tanggal 27 September 1940 yang menegaskan bahwa AS harus tetap netral dan mencegah AS dari membantu target Axis dan berperang melawan Axis Jika AS menyerang Jepang di Asia, AS juga akan berperang dengan Jerman di Eropa. Jika AS bergabung dengan Inggris untuk melawan Jerman di Eropa, AS juga harus melawan Jepang di Asia.
Namun, Pakta Tripartit menjadi tak berguna ketika Jerman meluncurkan Operasi Barbarossa dan Jepang memutuskan pada 2 Juli 1941 untuk merebut wilayah Belanda, Perancis dan Inggris. Akibatnya, pada tanggal 26 Juli 1941, untuk mengekang Jepang, AS membekukan semua aset Jepang di Amerika Serikat sekaligus mengakhiri semua perdagangan dengan Jepang serta melarang kapal-kapal Jepang melewati terusan Panama. Inggris dan Belanda pun melakukan hal yang sama. Kemudian, pada tanggal 2 Agustus 1941, AS mengembargo seluruh ekspor minyak ke Jepang. Hal serupa juga dilakukan Inggris dan Hindia Belanda. Ini berarti Jepang kehilanganri 90% pasokan minyak.
Pada tanggal 26 November 1941, AS menyerahkan "Hull Note" pada Jepang. Salah satu poinnya adalah agar Jepang untuk menolak Pakta Axis dan menarik semua angkatan militernya dari China dan Indochin demi kenormalan perdagangan dengan AS dan Jepang untuk melanjutkan. Namun, Jepang memandang "Hull Note" sebagai ultimatum: Jepang terpaksa mengundurkan diri dari Cina atau berhadapan dengan AS.
Mundur dari China berarti semua darah dan harta yang telah dikucurkan Jepang sejak 1931  akan sia-sia. Sejak menginvasi China Jepang telah mengorbankan 605.000 tentaranya dan menyerap lebih dari 71% dari anggarannya untuk keperluan militernya. Para pemimpin Jepang kemudian menyimpulkan pengunduran diri dari China akan ditentang keras.
Pada September 1941, embargo dan konsumsi telah mengurangi cadangan Jepang minyak sampai 50 juta barel. Angkatan Laut Jepang saja mengkonsumsi 2.900 barel minyak setiap jam. Ini berarti bahwa Jepang harus mengamankan pasokan minyak yang diperlukan atau menjadi benar-benar tidak berdaya.
Mengamankan pasokan minyak dari Hindia Belanda kemudian menjadi sangat penting bagi Jepang. Minyak sangat penting bagi industri Jepang dan kemampuan perangnya. Pada saat itu, Hindia Belanda adalah produsen minyak terbesar keempat di dunia. Pada tahun 1935 Jepang mengimpor 3,68 juta ton minyak (terutama dari AS), sementara Hindia Belanda mengekspor 5,14 juta ton minyak. Oleh karena itu, Hindia Belanda adalah target utama. Namun, untuk menuju Hindia Belanda harus melewati Malaya yang dikuasai Inggris dan Filipina yang dikuasai AS. Oleh karena itu, Jepang mesti melumpuhkan keduanya terlebih dahulu. Dalam perencanaan serangannya dalam Hari Penghujatan, Jepang memutuskan:
  • Menyerang Kota Bharu, Malaya, sebagai keputusan primer
  • Menyerang Pearl Harbor, Amerika Serikat, sebagai keputusan sekunder
Dua keputusan tersebut dibuat pada Gozen Kaigi (御前会議) atau Konferensi Imperial 6 Juli 1941. Kemudian, pada  Konferensi Imperial berikutnya tanggal 6 September 1941, Jepang semakin membulatkan tekad untuk memulai permusuhan terhadap Amerika Serikat, Inggris dan Belanda. Sedangkan keputusan untuk menyerang Pearl Harbor dibuat dalam Konferensi Imperial pada 5 November 1941.
Sesuai rencana Jepang pun memborbardir Kota Bharu, 85 menit sebelum menjatuhkan bom di Pearl Harbour:
  • Tanggal 8 Desember 1941 pukul 00.25 waktu Malaya, Jepang menyerbu Kota Bharu. Pada saat itu jam di Hawai menunjukkan pukul 06.25 (7 Desember 1941). Artinya, Jepang sudah memantik api peperangan dengan Inggris, salah satu anggota Sekutu yang tentu saja kontra Axis (Boleh dibilang sebab khusus itu sudah terjadi di Malaya)
  • Tanggal 8 Desember 1941 pukul 01.50 waktu Malaya atau 7 Desember 1941 pukul 07.50 waktu Hawai, Jepang menjatuhkan bom pertamanya di Pearl Harbour, diikuti oleh serangan berikutnya terhadap Singapura, Hong Kong, Filipina, Guam, Wake dan Midway beberapa jam kemudian.
Tujuan Jepang mendaratkan pasukan di Kota Bharu adalah untuk menaklukkan Singapura sebagai benteng Inggris yang tangguh dari sisi yang tak terlindungi. Singapura sendiri kemudian berhasil dikuasai dalam waktu 69 hari. 
Serangan terhadap Malaya dan Singapura adalah invasi besar-besaran. Kekuatan Jepang terdiri dari 70.000 orang, 568 pesawat tempur dan 200 tank. Sebanyak 15.000 tentara Inggris tewas, 10.000 luka-luka dan 160.000 lainnya jadi tawanan. Sementara di pihak Jepang 3.500 tentara tewas dan 6.150 terluka. Sedangkan serangan terhadap Pearl Harbor merupakan sebuah serangan udara selama 90 menit. Jepang melibatkan 354 pesawat tempur yang didukung oleh 56 kapal perang. Dalam serangannya, pasukan Jepang berhasil menghabisi 2.386 serdadu AS, melukai 1.139 lainnya, menenggelamkan 18 kapal milik AS. Jepang kehilangan 6 kapal selam kecil, 29 pesawat tempur dan 64 tentaranya. 



No comments :

Post a Comment